Minggu, 19 Juli 2009

Ruwatan Cukur Rambut Gembel

Dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah, termasuk Wonosobo sudah tidak asing lagi dengan tradisi upacara ruwatan yang telah lama berkembang dan mewarnai kehidupannya. Ruwatan berasal dari kata “RUWAT” yang berarti Terlepas atau Bebas. Yang dimaksud Bebas disini adalah “SUKRETA” atau marabahaya yang akan timbul karena adanya cirri khas yang melekat pada anak atau orang tertentu.

Upacara ruwatan yang paling terkenal di Wonosobo terutama di dataran tinggi dieng adalah Ruwatan Cukur Rambut Gembel. Upacara ini didasarkan pada kepercayaan bahwa anak yang berambut gembel adalah anak masih terkait dengan tokoh yang memiliki kesaktian luar biasa salah satu pendiri Wonosobo yaitu Kyai Kolodete. Menurut cerita, Kyai Kolodete memiliki rambut gembel sejak lahir hingga akhir hayatnya, sebelum ajalnya ia mewariskan rambut gembelnya kepada anak cucunya. Maka dari itu masyarakat percaya bahwa arwah Kyai Kolodete tenang di alam akhirat karena rambut gembel yang sudah lama menganggu kehidupannya telah diwariskan kepada anak cucunya.

Versi Cerita lain tentang Rambut Gembel ini, menyebutkan bahwa Nyai Roro Kidul sangat terganggu oleh rambut manusia yang rontok karena disisir yang kemudian rambut rontok tersebut dihanyutkan di laut selatan tempat Nyai Roro Kidul tinggal. Karena semakin lama semakin bertambah banyak akhirnya Nyai Roro Kidul gerah dan memerintahkan kepada para abdinya untuk membersihkan rambut-rambut rontok tersebut dengan cara memunguti dari laut , kemudian dikumpulkan dan akhirnya rambut yang telah dkumpulkan tersebut dititipkan kepada anak-anak didaerah pegunungan Dieng. Rambut-rambut yang telah dititipkan ini akan diambil jika orang tua si anak memenuhi permintaan Nyai Roro Kidul yang akan diucapkan melalui perantara anak itu.

Rambut Gembel ini tidak muncul sejak lahir tapi setelah anak berumur 40 hari keatas, gejala munculnya rambut gembel diawali kepala pusing, diare dan gatal-gatal serta meningkatnya suhu tubuh yang luar biasa. Gejala ini dapat berlangsung antara 1 hari – 2 bulan lamanya sehingga menyebabkan si anak menjadi gelisah(Rewel) dan menangis.

Jika muncul gejala seperti itu biasanya orang tua pergi ke Puskesmas atau menggunakan cara pengobatan tradisional yakni mengompres ubun-ubun anak dengan bawang merah yang ditumbuk dengan minyak kelapa, tujuannya agar kepala anak menjadi dingin.

Jika pengobatan telah dilakukan tapi tidak menunjukkan kesembuhan maka orang tua akan langsung menduga bahwa rambut gembel sedang tumbuh pada anaknya. Setelah rambut gembel itu tumbuh maka gejala-gejala itu akan hilang dengan sendirinya. Rambut gembel tidak akan menular pada saudaranya ataupun orang lain yang tidak berambut gembel.

Selain itu usaha orang tua untuk mencegah tumbuhnya rambut gembel pada anaknya yakni, dengan mencukur rambut anak sedini mungkin agar tidak menjadi panjang yang memungkinkan tumbuhnya rambut gembel, ataupun dengan membersihkan setiap hari dengan sampo atau ramuan tradisional.

Anak yang berambut gembel cenderung lebih berani dan nakal. Hal ini kemungkinan dipacu oleh perhatian orang tua dan keluarganya yang berlebihan terhadap si anak. Banyak orang tua yang memiliki anak berambut gembel meyakini bahwa rambut gembel anaknya merupakan titipan para leluhur.

0 komentar:

Poskan Komentar